15 May 2012

Fantasy, Dreams, and Reality



Sejak kecil, aku sudah jatuh cinta sama yg namanya fiksi. aku suka baca komik, baca cergam (cerita bergambar), nonton kartun, main game, dan lain-lain. aku suka berfantasi, membayangkan kalo aku adalah seorang ksatria yang akan mengalahkan naga, seorang penyihir yang menguasai mantra, dan lain-lain. Lalu, Mulailah aku berfantasi, kemudian  mencoretkan gambar pertamaku di atas sebuah  kertas, tentu saja gambarnya jelek. Namun bagi seorang anak kecil seperti aku waktu itu, gambar itu sangat indah, dan bisa membawaku ke "Dunia Lain". Karena suka dan keseringan, aku pun jadi suka dengan menggambar. Tentu saja yang  aku gambar waktu itu adalah benda-benda yang muncul di dunia fanatasi buatanku.

Namanya anak kecil, dari situ, timbullah keinginanku untuk suatu saat aku punya pekerjaan yang tidak jauh dari fiksi dan fantasi. Tapi ternyata orang-orang di sekitarku mempunyai pendapat yang seolah-olah membuat keinginaku mundur. Bukan karena berdasarkan keinginanku, tapi karena aku seorang indonesia. Nah lho. Saat aku bilang aku ingin jadi komikus, ingin seperti Akira Toriyama dengan Dragon Ball-nya, Eiichiro Oda dengan One Piece-nya, atau Tsugumi Ohba & Takeshi Obata dengan Death Note-nya, mereka bilang "Komik buatan indonesia gak bakal laku, gak ada penerbit yang mau nerima, susah bekembang". Saat aku ingin jadi Sutradara film fiksi ilmiah, seperti Jurassic Park-nya Spielberg, mereka bilang "Susah, Gak bakal laku, buat film di indonesia itu kalau mau laku, ya kalau gak drama remaja, ya Horror". Horror ? emang ada film horror ? yang aku lihat kebanyakan film tentang "Setan", Cewek seksi, plus adegan "Strip". Waktu aku ingin punya perusahaan game seperti SQUARE yang terkenal dengan Final Fantasy nya, mereka bilang "Buat apa, gak ada yang mau beli, paling ujung-ujungnya dibajak".

Gila. Berkembang ditengah omongan-omongan seperti itu. aku heran, segini pesimisnya orang Indonesia terhadap bangsanya sendiri. Sebenarnya wajar,  mungkin sih. Tradisi  yang memandang Indonesia sebagai negara "Dunia Ketiga", negara biasa, gak usah neko-neko, gak usah niru negara-negara maju, yang penting hidup bisa seperti orang lain, keluarga tercukupi masih mengakar kuat. Apa gak ada tah yang mau keluar dari tradisi itu, ini bukan soal uang  atau apa, tapi suatu kebanggaan, prestasi. Kita akan menjadi seorang yang levelnya lebih tinggi. Karena kita bisa melakukan hal kita sukai, membuat nyata sesuatu yang telah lama kita inginkan.

Tapi harus diakui, mau gak mau, sistem di Indonesia memang seperti itu, jadi walaupun aku masih sempatkan waktu untuk terus mengasah kemampuan menggambar dan menulis cerita (fantasi), aku tetap belajar sungguh-sungguh untuk bisa melanjutkan kuliah, terutama karena aku ingin bahagiain orang tuaku, mereka sudah bekerja banting tulang, mati-matian agar anak mereka yang satu ini bisa kuliah. Sesuatau yang sangat mahal dan terpandang di keluargaku. Maka dari itu, aku pun memilih untuk kuliah di jurusan Informatika. Dulu sempat milih jurusan Desain, biar gak jauh-jauh dari menggambar, namun Allah ternyata memilihkan Informatika sebagai takdirku.

Harapannya sih, ntar aku bsa bikin Game yang berkelas dan berkualitas, seperti buatan Jepang atau Amerika, hahaha, ya mungkin mulai dari kecil-kecilan dulu. Bukannya hal-hal besar itu selalu dimuali dari hal yang kecil ?

Ya, Game. Itulah motivasi terbesar untuk saat ini, yang membuatku bisa survive untuk belajar dan berlatih keras di jurusan Informatika ini. Semoga kedepannya bisa tercapai, amiin.

0 Comments:

Post a Comment

Popular Posts