01 October 2013

Kembalinya dua kata yang sempat hilang



"Bikin Game".

Entah kapan terakhir kali saya merasa bergairah mendengar dua kata itu.

Sebelum ini, "bikin game" adalah  sesuatu yang mengingatkan saya akan kebodohan saya. Ke-ego-an saya. Cerita tentang seorang mahasiswa ambisius yang ingin membuat sesuatu yang luar biasa secara instan.

Saya terus terang merasa tidak enak mendengar dua kata tersebut. Tetapi memang, sejak semester lalu. "Bikin Game" telah menyebabkan saya membuat salah satu teman terbaik saya putus asa.

Setelah kami membuat tim beranggotakan dua orang, kami mulai membuat game untuk diikutkan berbagai kompetisi. Namun sayang, keberuntungan  tidak  belum berpihak pada kami. Tidak ada satupun dari karya yang kami buat menang, atau setidaknya lolos. Keputusasaan mulai melanda kami. Dan pada akhirnya rekan setim saya meninggalkan kegiatan ini. Sedangkan saya? well saya tidak terlalu mengerti. Antara saya belum menyerah atau terlalu naif.

Beberapa bulan sejak teman saya meninggalkan tim, saya hampir tidak melakukan hal apapun yang berhubugan dengan "bikin game", bahkan main game pun tidak. Saya mulai  meniggalkan kebiasaan nonton anime. Kemudian mulai berolahraga rutin setiap hari (yang mana jarang saya lakukan saat sedang aktif di tim). Dan yang terpenting, saya mulai mengejar ketertinggalan saya di akademik akibat kegiatan "bikib game" ini.

Yang tertanam di pikiran saya waktu itu hanya : "Jadi mahasiswa Teknik Informatika yang baik. Gak usah nglakuin yang aneh-aneh. Fokus akademik. Lulus jadi pegawai teladan. Orangtua senang. bla...bla..bla..."

Intinya, saya hampir tidak memikirkan lagi dengan apa yang namanya "bikin game".

Hingga hari itu datang.


"Hoi, Rif"

"Bikin game, yuk."

Seorang teman dari jurusan saya mengajak saya membuat game.

Pada awalnya saya sempat sensitif dan hampir menolak ajakannya, namun karena saya pada dasarnya tipe orang yang tidak ingin mengecewakan orang lain, maka saya mengurungkannya.

Setidaknya saya tanyakan dulu tujuannya, apakah untuk kompetisi / iseng aja.

Ternyata teman saya yang ini ingin mengajak saya membuat tim game development. Dia mengajak saya untuk ikut Imagine Cup.

Dalam hati terjelek saya, saya hanya berpikir : Memangnya anak ini pernah bikin game apa, ingin jadi juara dunia degan bikin game?

Namun, ceritanya yang selanjutnya membuat saya mengubah pikiran saya. Dia menceritakan tentang tim dari Madura yang ternyata menjadi juara 2 di Imagine Cup.

Saya tergerak, merasa ada sesuatu yang mendorong saya ingin kembali melakukan hal yang beberapa bulan ini saya menyerah.

Saya terima ajakannya. Saat awalnya saya pikir kami hanya berdua, ternyata teman saya ini sudah mengajak dua teman sejurusan lain untuk gabung di tim kami. Alhasil ada empat orang mahasiswa di tim ini.

Dua minggu kemudian kami mulai merencanakan pertemuan rutin (jumat dan sabtu). Kemudian dari pertemuan rutin itu kami mulai merencanakan game yang akan kami buat.

Mungkin yang namanya semangat bisa hilang. Tetapi passion seseorang yang sudah terpasang sejak lahir akan terus ada jika seseorang itu menyenanginya dengan ikhlas dan sepenuh hati.

0 Comments:

Post a Comment

Popular Posts